Saturday, July 28, 2007

Catatan Eceran 6: Indonesia - Peliknya Mas Hasan Elnoor, Sunan Kudus dan Sapi.

Hafez. Ha ha ha ha ~ Lo tolong gue, gue tolong lo, kalo lo nggak... Oh, pemandangan? Keren! Indah banget! ~ wooooow....Hafez, kamu udah top sekarang. Bahasa Betawi, Osing, dan Indonesia.... Luar biasa. Oh ya, sepulang kamu, saya bertandang ke rumah teman - Eep Saefulloh Fatah - dan dia bilang, bahasa saya justru terdengar seperti logat malaysia lo. Apakah yang terjadi pada kita, Hafez? Barangkali seperti virus, Hafez tertular logat Osing dan Betawi. Saya tertular logat Malaysia. Indah sekali hidup ini.... - Lintang Sugianto, 7/23/2007 1:18:06 PM



Photo Hosted at Buzznet

Mas Hasan dengan Puisi Apa Kabar Kekasih sementara Mbak Lintang berucap menghargai anak-anak pesentren.
[Nota: Kekeliruan apakah haram memetik gitar saya sertakan dalam nota kaki di bawah catatan eceran ini, terima kasih]
Photo Hosted at Buzznet

Mas Hasan yang bergaya di kiri saya yang selekeh.

Photo Hosted at Buzznet
Kereta sapi.

Catatan Eceran 6: Indonesia - Peliknya Mas Hasan Elnoor, Sunan Kudus dan Sapi.
Seorang Mas Hasan Elnoor cukup untuk menggambarkan keunikan golongan yang berkesenian. Waktu itu, Acheh sudah jadi padang jarak ditabrak tsunami. Antara usaha mengurangkan trauma pengungsi yang diusik keras tsunami ialah melalui kesenian. Upacara pembacaan puisi dan nyanyian lagu puisi buat memujuk hati yang bersedih telah dibawakan kepada pengungsi di Acheh yang berduka. Di sana, di bumi yang hampir mati, Mas Bambang dan Mbak Lintang bertemu Mas Hasan Elnoor. Acheh punya rencana tersendiri buat mereka. “Dulu, Si Hasan ini sombong dia! Dia nggak mahu cakap dengan aku.” Kata Mas Bambang, saya dan Mas Hasan ketawa. “Musiknya Si Hasan bagus, tapi puisinya dia jelek!” Kami ketawa usai Mas Bambang menghabiskan ayat itu. Kami masing-masing tahu yang Mas Hasan pemusik yang juga mahir membikin lirik. Saya sentiasa terhibur dengan candaan Mas Bambang dan Mas Hasan. Terhibur banget! Bermula dari pertemuan di Acheh, bermulalah usaha Mas Hasan melagukan puisi-puisi Mbak Lintang, itu pun setelah Mas Hasan berkecil hati setelah dilarang ikut mementas oleh Mas Dibyo. Nggak boleh! Inikan acara khusus puisinya Lintang! Waktu itu Mas Hasan masih belum melagukan puisi-puisi Mbak Lintang.

Mas Hasan sedang duduk-duduk di sofa sewaktu saya tiba di rumah Mas Bambang dan Mbak Lintang di Bekasi. Di dinding, tergantung potret hitam putih Chairil Anwar sedang asyik menyedut rokok. Di bawah Chairil tercetak ‘Sekali berarti sudah itu mati,’ baris dari puisi Diponogoro. Hasan Elnoor dan seni adalah seperti itu, sekali berarti, sudah itu mati. Tuntas, hidupnya adalah seni.

“Penyair Nasional, Mbak Lintang Sugianto dan suami, Mas Bambang Sugianto, dari Jakarta, Mas Hasan Elnoor dari Kudus, Mas Hafez Iftiqar dari Malaysie...” Begitu kira-kira sewaktu moderator memperkenalkan kami yang siap duduk di atas pentas. Sewaktu moderator menyebut “Mas Hasan dari Kudus,” Mas Bambang ketawa kecil. Saya ikut ketawa. “Dulu Si Hasan, nggak mahu makan sapi dia!” Mas Bambang melontar pandang kepada Mas Hasan, semangat dia bercerita tentang Hasan Elnoor, Kudus dan sapi sehari sebelum kami bersama di atas pentas.

Sunan Kudus merupakan seorang daripada sembilan wali songo. Uniknya dakwah Sunan Kudus ialah pendekatannya yang sangat toleran dengan budaya setempat. Kudus waktu itu pekat dengan ajaran Buddha dan Hindu. Bagi mengumpan minat masyarakat Kudus, Sunan Kudus telah memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Buddha yang ternyata berjaya menyediakan masyarakat untuk rela menganut Islam. Antara lain, bentuk masjid dan padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Buddha dan kisah Kebo Gumarang. Sunan Kudus pernah menambat sapinya yang bernama Kebo Gumarang di hadapan masjid buat menarik minat penganut Hindu mendengar tablighnya. Orang-orang Hindu yang mendewakan sapi menjadi kasihan, ditambah pula dengan penjelasan Sunan Kudus berkenaan surah Al-Baqarah, Surah Sapi Betina, lalu berbondong-bondong mereka menjadi Islam. Sampai sekarang masih kedapatan masyarakat tradisional Kudus yang enggan menyembelih dan memakan sapi.

“Dulu aku sangkakan aku gila, rupanya masih ada yang sama macam aku,” kata Mas Hasan waktu kami berbicara tentang perilakunya yang unik. Berlama-lama di kamar mandi adalah identiti ganjil Hasan Elnoor. Dua jam di kamar mandi adalah biasa buat dia. Dan pada hari itu, saya mengetahui bukan hanya Hasan Elnoor, WS Rendra dan Ebiet G Ade juga punya tabiat yang sama. Kamar mandi bererti ilham!

Mas Hasan kemana-mana dengan segalas tas dan jadual waktu solat yang digulung. Sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Banyuwangi, kami berbicara tentang pelbagai perkara. Dari Soekarno ke Abdullah Badawi. Dari ISA ke komunisme di Indonesia. Dari WS Rendra ke tunangan yang mungkir. Dia juga menjadi dosen loghat Betawi sewaktu penumpang-penumpang bis lena dipukau capek. “Ape kabar?”, “Name siape?” Pukul rata, loghat Betawi berkehendakkan kamu membunyikan semua perkataan dengan akhir ‘a’ sebagai ‘e’ seperti kamu membunyikan ‘e’ dalam kata emak.

Suatu yang tidak mungkin saya lupakan tentang Hasan Elnoor adalah suaranya yang lunak. Saya tidak pernah jemu mendengar dia mendendangkan Apa Kabar, Kekasih, puisinya Mbak Lintang Sugianto;

Setelah kutempuh perjalanan yang tak kukenal rimbanya
Airmata berbulu api memang benar sedang menjadi hujan
Ada yang ingin kutahu
Bagaimana pohon istighfarku
Sudah lama tak pernah kujaga
Rumbai-rumbai kesombongan
Sempoyongan di muka angin yang berkacak pinggang
Membuatku menunggu daun-daun yang jatuh

Barangkali
Di sana ada takdir yang ingin berucap salam
Apa kabar, kekasih.

Waktu puisi ini terhasil, Mbak Lintang masih baru dalam Islam setelah meninggalkan Kristen. Keikhlasannya menjadi seorang Muslim dibuktikan beliau dengan puasa Senin dan Khamis. Waktu itu dia susah, dia dan Mas Bambang masih dalam rangka observasi budaya. Nekad mengalahkan kesusahan yang dipikul. Uang hanya tinggal 250 rupiah. Itu langsung tidak mengganggu dia untuk terus beramal buat Kekasih. Hanya kepada Kekasih mereka berserah. Iya, Kekasih, Allah yang Esa. Apa Kabar, Kekasih sampai hari ini mengubati rindu saya buat mereka. Buat Mas Bambang, Mbak Lintang dan Mas Hasan Elnoor, saya merindui kalian, kapan kita bisa ketemu lagi?

Catatan Eceran 7: Indonesia - Mbak Lintang dan Mas Bambang Sugianto yang Saya Kagumi.
---------------
Nota Kaki: Kekeliruan Tentang Alat Muzik Bertali. RALAT
Gitar tidak wujud di zaman salaf tapi alat-alat muzik bertali ini dikenali dgn nama ' alMa'azif (المعازق). Ia juga dikenali dgn alat-alat muzik petik. Hadith yg melarangnya ialah hadith alBukhari dari Abu Malik alAsy'ari: ليكونن من أمتي أقوام يستحلون ‏ ‏الحر ‏ ‏والحرير والخمر والمعازف terjemahannya: " Sungguh akan terjadi satu kaum dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, arak dan alat muzik petik." (Bukhari: bab alAsyribah, # 5590). Hadith ini mu'allaq (tiada sanad) dan ia menjadi khilaf di kalangan ahli hadith apakah hadith ini boleh dijadikan hujah. Ibn Hazm dan Dr alQardhawi (Fiqh alGhinaa' wal Musiqii) mengatakan hadith ini tidak boleh dijadikan hujah kerana kecacatannya kerana dalam jalur periwayatannya terdapat perawi bernama Hisyam bin Amar, perawi Syria yang bermasalah. Ini diakui sendiri oleh Ibn Hajar dalam Hadyu Sari/448. Maka gitar tidak haram pada zatnya (fizikal gitar itu). Ini bermakna hukum bermain gitar itu tidaklah haram. Ia sama spt motor atau kereta. Keduanya harus dan halal. Tapi jika kereta itu digunakan untuk lumba haram, untuk bermegah-megah, utk ke pub dan nightclub, maka itu dinamakan salah guna. Begitu juga gitar tadi, lagu apa yg dimainkan, apakah imej seorang pemain gitar di mata masyarakat? suasana gitar itu dipetik... Itulah yg perlu dikaitkan. Tapi hukum gitar dan petikan gitar perse.. Tidaklah ada masalah. Ia menjadi masalah bila dikaitkan untuk apa, kenapa, di mana, bagaimana, dalam suasana apa, lagu apa?
(alQardhawi, Fiqh alGhinaa' wal Musiqi, maktabah Wahbah, 2001)
-sumber, Panel Feqh Alahkam.

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home